Makalah Psikologi Pendidikan
Tentang
Kecerdasan Sosial & Implikasinya
Terhadap Kesuksesan
Oleh Kelompok IX
Muslim. M ( 10 107 029)
Nursyat Diah (10 107 032)
Rahma Wati (10 107 034)
Dosen
Drs. Masril, M. Pd., Kons
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
FISIKA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
BATUSANGKAR
1434 H/2013 M
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
segala puji dan syukur kita ucapkan kepada Allah SWT semesta alam, yang telah memberikan kita
kesehatan sehingga kita dapat
melaksanakan aktivitas dengan segala manfaat yang ada dan dapat memberikan kita kecerdasan dalam berfikir sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas makalah tentang Kecerdasan Sosial dan Implikasinya
Terhadap Kesuksesan.
Dengan kecerdasan itu kita dapat memberikan karya-karya terbaik untuk agama,
bangsa, dan tanah air tercinta.
Shalawat dan
salam kita ucapkan kepada Allah agar
disampaikan-Nya kepada junjungan kita
yaitu Nabi Muhammad SAW beserta
keluarganya, sahabat dan orang-orang yang selalu istiqomah.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Hal ini tidak
terlepas dari keterbatasan kami sebagai
manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan. Untuk itu kami
mohon maaf jika ada kesalahan dalam
pengetikan dan lain sebagainya.
Dengan ini kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun guna kesempurnaan
makalah ini mudah-mudahan makalah bermanfaat bagi kita semua.
Batusangkar, 23 April 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………… 2
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………... 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang …………………………………………………………… 4
B. Rumusan Masalah …………………………………………………………… 4
C. Batasan Masalah …………………………………………………………… 5
D. Tujuan Penulisan …………………………………………………………… 5
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kecerdasan Sosial …………………………………………… 6
B.
Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Sosial …………………………… 7
C.
Proses
Perkembangan Kecerdasan
Sosial pada Setiap Individu, Peserta
Didik,
dan Cara
Mengembangkannya bagi Peserta Didik……...……………….... 10
D.
Ciri-ciri
Kecerdasan Sosial………………………………………………….... 20
E.
Pengaruh
Kecerdasan Sosial bagi Kesuksesan dalam Kehidupan…………… 24
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan …………………………………………………………………… 29
B.
Saran …………………………………………………………………… 29
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Tentunya kita telah mengetahui bahwa manusia
adalah makhluk sosial yang memerlukan lingkungan sebagai sarana untuk kehidupan
sosialnya. Mereka tidak pernah dapat hidup sendiri di dunia, oleh karenanya
manusia tentu membutuhkan orang lain dan selalu berusaha melakukan
interaksi sosial dengan menjalin hubungan sosial dengan orang lain untuk
mencapai kebutuhan hidupnya.
Ada berbagai jenis kecerdasan yang mempengaruhi
kesuksesan seseorang. Sebagian masyarakat menganggap kecerdasan intelektual-lah
yang paling berpengaruh. Padahal, terdapat sebuah kecerdasan yang sangat ampuh
untuk membantu seseorang menjadi sukses, kecerdasan ini disebut kecerdasan
sosial.
Dalam kehidupan bermasyarakat seringkali kita
menemukan berbagai fenomena social. Misalnya dalam kehidupan bertetangga ; sebut saja Bu Ana dan Bu Dewi sedang
membicarakan tetangga barunya yang sejak pindah rumah hingga hitungan bulan
ketujuh tidak pernah bertegur sapa dengan tetangga lainnya. Memang perilaku ini
tidaklah menganggu kehidupan bermasyarakat tetapi cukup meresahkan bagi warga
kampung tersebut yang memiliki keeratan hubungan social disbanding dengan warga
perumahan mewah sebelah kampung itu.
Ternyata
kepribadian yang dimiliki tetangga baru itu bukanlah perilaku yang menyimpang,
apalagi criminal, tetapi hanyalah perilaku yang kursng ramah, cuek, dan yidak
mau tahu urusan oreang lain di sekitarnya. Mungkin di pemukiman lain hal
tersebut justru menjadi nilai tambah tetapi bilai ia tinggal di kampong tempat
tinggal Bu Ana maka ia akan menjadi
gunjingan sebagai pribadi yang tidak memiliki rasa social pada sesama. Kepribadian
seperti apa yang menjadikan ia memiliki sikap-sikap social yang diinginkan oleh
masyarakat setempat? Dari uraian cerita di atas tergambar bahwa
kecerdasan social seseorang berpengaruh
terhadap kehidupan seseorang.
B. Rumusan
Masalah
Dari latar belakang masalah yang tertera di
atas tentang sedikit penjelasan penulis pun mengkategorikan kedalam beberapa
rumusan masalah, diantaranya:
1.
Apa kecerdasan social itu?
2.
Apa saja factor yang mempengaruhi kecerdasan
social seseorang?
3.
Jelaskan ciri-ciri kecerdasan social!
4.
Apa keterampilan dasar dalam kecerdasan social?
5.
Bagaimana proses perkembangankecerdasan social
pada setiap individu?
6.
Bagaimana
pengaruh kecerdasan social bagi kesuksesan dalam kehidupan?
C. Batasan Masalah
Kami memberi batasan makalah ini antara lain:
1.
Pengertian
kecerdasan sosial
2.
Faktor yang mempengaruhi kecerdasan sosial
3.
Ciri-ciri
kecerdasan sosial
4.
Ketempilan
dasar dalam kecerdasan sosial
5.
Proses
perkembangannya pada setiap individu, peserta didik, dan cara mengembangkannya
bagi peserta didik
6.
Pengaruh
kecerdasan sosial bagi kesuksesan dalam kehidupan
D. Tujuan
Tujuan
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Memenuhi tugas mata kuliah Psikologi
Pendidikan.
2. Agar
kita memahami tentang kecerdasan social dan implikasinya terhadap kesuksesan.
BAB II
KECERDASAN SOSIAL DAN IMPLIKASINYA
TERHADAP KESUKSESAN
A.
Pengertian Kecerdasan Sosial
Kecerdasan sosial merupakan kecerdasan yang mencakup interaksi kelompok dan
erat kaitannya sosialisasi. Kemampuan untuk mengenal diri sendiri dan untuk
mengetahui orang lain adalah bagian yang tak terpisahkan dari kondisi manusia.
Kecerdasan sosial menurut beberapa ahli:
1. Menurut Buzan
Kecerdasan sosial adalah ukuran kemampuan diri seseorang dalam pergaulan di
masyarakat dan kemampuan berinteraksi sosial dengan orang-orang di sekeliling
atau sekitarnya.
2. Suean Robinson Ambron (1981)
Mengartikan sosialisasi itu sebagai proses belajar yang membimbing
seseorang ke arah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota
masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif. (Syamsu Yusuf, Psikologi
Perkembangan Anak dan Remaja, hal.123).
3. Stephen Jay Could, On Intelligence, Monash
University: 1994
Kecerdasan sosial merupakan suatu kemampuan untuk memahami dan mengelola
hubungan manusia. Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa
sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam
melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini.
4. Amstrong (1994)
Komponen penting membangun kecerdasan sosial (social intelegence) adalah
komunikasi dan pendidikan. Kecerdasan sosial adalah kematangan kesadaran
pikiran dan budi pekerti untuk berperan secara sosial dalam kelompok atau
masyarakat.
5. Pakar psikologi pendidikan Gadner (1983)
Menyebut kompetensi sosial itu sebagai social intellegence atau kecerdasan
sosial. Kecerdasan sosial merupakan salah satu dari sembilan kecerdasan
(logika, bahasa, musik, raga, ruang, pribadi, alam, dan kuliner) yang berhasil
diidentifikasi oleh Gadner.
6. Menurut definisi asli Edward Thorndike
Kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk memahami dan mengelola pria dan
wanita, anak laki-laki dan perempuan, untuk bertindak bijaksana dalam hubungan
manusia. Hal ini setara dengan kecerdasan interpersonal, salah satu jenis
kecerdasan yang diidentifikasi dalam Howard Gardner ‘s Teori kecerdasan ganda ,
dan erat terkait dengan teori pikiran .
7. Menurut Sean Foleno
Kecerdasan sosial adalah kemampuan seseorang untuk memahami dirinya atau
lingkungannya secara optimal dan bereaksi dengan tepat untuk melakukan sosial
sukses.
Definisi Teoritis
Kecerdasan sosial
adalah kemampuan yang mencapai kematangan pada kesadaran berpikir dan bertindak
untuk menjalankan peran manusia sebagai makhluk sosial di dalam menjalin
hubungan dengan lingkungan atau kelompok masyarakat.
Dari beberapa
pengertian di atas, dapat dipahami bahwa kecerdasan sosial sangatlah penting
dalam menunjang kehidupan bermasyarakat, sukses tidak identik dengan kemampuan
IQ, karena sesungguhnya kecerdasan sosial-lah yang sangat berperan besar dalam
kehidupan. Banyak orang yang IQ nya diatas rata-rata mampu menggapai kesuksesan
dengan meningkatkan kemampuan social intelligence ini.
1.
Keluarga
Keluarga merupakan
lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek
perkembangan individu, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara
kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi. Proses
pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak
ditentukan oleh keluarga, pola pergaulan, etika berinteraksi dengan orang lain
banyak ditentukan oleh keluarga.
2.
Kematangan Pribadi
Untuk dapat
bersosilisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik dan psikis sehingga mampu
mempertimbangkan proses sosial, memberi dan menerima nasehat orang lain,
memerlukan kematangan intelektual dan emosional, disamping itu kematangan dalam
berbahasa juga sangat menentukan.
3.
Status Sosial Ekonomi
Kehidupan
sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga dalam
masyarakat. Perilaku individu akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang
telah ditanamkan oleh keluarganya.
4.
Pendidikan
Pendidikan merupakan
proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses
pengoperasian ilmu yang normatif, individu memberikan warna kehidupan sosial
didalam masyarakat dan kehidupan mereka.
Kapasitas
Mental : Emosi dan Intelegensi
Kemampuan
berfikir dapat banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan
masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi perpengaruh sekali terhadap
perkembangan sosial. Individu yang berkemampuan intelek tinggi akan
berkemampuan berbahasa dengan baik. Oleh karena itu jika perkembangan ketiganya
seimbang maka akan sangat menentukan keberhasilan perkembangan sosial individu
tersebut.
1. Percaya (trust).
Percaya
didevinisikan sebagai mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang
dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dalam situasi yang penuh resiko. Ada situasi yang menimbulkan resiko. Bila orang menaruh kepercayaan
kepada seseorang, ia akan menghadapi resiko. Resiko itu dapat berupa kerugiaan
yang anda alami.
Faktor yang menaruh kepercayaan kepada orang lain berarti menyadari
bahwa akibat-akibatnya bergantung kepada orang lain. Orang yang yakin bahwa
perilaku orang lain akan berakibat baik baginya.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap percaya:
a. Karakteristik dan
maksud orang lain. Orang yang menaruh kepercayaan kepada orang yang
dianggap memiliki kemampuan, keterampilan atau pengalaman dalam bidang
tertentu.
b. Hubungan kekuasaan.
Percaya apabila orang-orang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain.
c. Sifat dan kualitas
komunikasi. Bila komunikasi bersifat terbuka, bila maksud dan tujuan sudah
jelas, ekspektasi sudah dinyatakan maka akan tumbuh sikap percaya.
Ada tiga faktor utama yang dapat menumbuhkan
sikap percaya atau mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling
percaya. Menerima, empati dan kejujuran.
Menerima adalah
kemampuan berhubungan dengan orang lain tampa menilai dan berusaha
mengendalikan. Menerima adalah sikap melihat orang lain sebagai manusia,
sebagai individu yang patut dihargai.
Empati adalah memahami
orang lain yang tidak mempunyai arti emosinal bagi kita, sebagai keadaan ketika
pengamat bereaksi secara emosional karena ia menanggapi orang lain siap
mengalami suatu emosional.
Kejujuran adalah faktor ketiga yang menumbuhkan sikap percaya. Kejujuran
mengakibatkan perilaku kita dapat diduga, ini mendorong orang-orang untuk
percaya pada kita.
2. Sikap suportif
Sikap suportif adalah sikap yang mengurangi
sikap depentif dalam komunikasi dalam penelitian gaib di ungkapkan bahwa makin
sering orang menggunakan perilaku depentif, makin besar kemungkinan komunikasi
depentif, komunikasi depentif berkurang dalam perilaku suportif, ketika orang
menggunakan perilaku ke sebelah kanan.
a. Evaluasi dan Deskripsi. Evaluasi artinya
penilaian terhadap orang lain, memuji atau mengancam. Deskripsi artinya
penyampaian pesan dan persepsi antara tampa menilai.
b. Control dan Orientasi Masalah. Perilaku kontrol
adalah berusaha untuk mengubah orang lain, mengendalikan perilakunya, mengubah
sikap, pendapat dan tindakannya.
c. Strategi dan spontanitas. Stategi adalah
penggunaan tipuan-tipuan atau manipulasi untuk mempengaruhi orang lain.
d. Netralitas dan Empati. Netralitas berarti
sikap inpersonal memperlakukan orang lain tidak sebagai persona, melainkan
sebagi objek.
e. Superioritas dan Persamaan. Superioritas berarti
sikap menunjukkan anda lebih tinggi atau lebih baik dari pada orang lain karena
status, kekuasaan, kemampuan intelektual, kekayaan atau kecantikan.
f. Kepastian dan Provisionalisme. Orang yang memiliki
kepastian berarti memiliki dogmatis, keinginan menang sendiri dan melihat
pendapatnya sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat diganggu gugat
3. Sikap terbuka.
Sikap terbuka amat besar pengaruhnya dalam
menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif
Kriteria sikap orang terbuka:
a. Menilai pesan secara objektif, dengan menggunakan data dan keajengan
logika.
b. Membedahkan dengan muda melihat nuansa
c. Berorientasi pada isi
d. Mencari informasi dari berbagai sumber.
e. Lebih bersifat profesional dan bersedia mengubah kepercayannya.
f. Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian
kepercayaannya.
C.
Proses Perkembangan Kecerdasan Sosial pada Setiap Individu, Peserta Didik, dan Cara
Mengembangkannya bagi Peserta Didik[2]
Pada kecerdasan
sosial , hubungan interpersonal / antar
individi berlangsung melalui tiga tahap, yaitu:
- Pembentukan hubungan
Tahap ini sering disebut dengan tahap perkenalan (acquaintance process).
Beberapa orang peneliti seperti Newcomb (1961), Berger (1973), Zunin (1972),
dan Duck (1976) telah menemukan hal-hal yang menarik dari proses perkenalan.
Fase pertama adalah fase kontak permulaan (initial contact phase) yang ditandai
oleh usaha dari kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya.
Masing-masing pihak berusaha menggali identitas, sikap, dan nilai pihak lain.
Bila terdapat kesamaan, maka mulailah dilakukan proses pengungkapan diri.
Proses saling menilik ini disebut Newcomb sebagai saling menyelidiki
(reciprocal scanning). Pada tahap ini informasi yang dicari berkisar mengenai
data demografi, usia, pekerjaan, tempat tinggal, dsb.
Menurut Charles R. Berger dalam Jalaluddin Rakhmat (2011), informasi
pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh kategori yaitu:
a.
Informasi demografis
b.
Sikap dan pendapat
(tentang orang atau objek)
c.
Rencana yang akan
datang
d.
Kepribadian
e.
Perilaku pada masa lalu
f.
Orang lain
g.
Hobi dan minat
Tidak selalu informasi yang kita peroleh didapat dari komunikasi verbal.
Kita juga membentuk kesan dari petunjuk proksemik, kinesik, paralinguistic, dan
artifaktual. Menurut Willian Brooks dan Philip Emmert dalam Jalaluddin Rakhmat
(2011), kesan pertama sangat menentukan, karena itu hal-hal yang pertama
kelihatan sangat menentukan kesan pertama.
- Peneguhan hubungan
Hubungan interpersonal tidak bersifat statis, tetapi selalu berubah.
Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, perubahan memerlukan
adanya tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan. Terdapat
empat faktor yang sangat penting dalam memelihara keseimbangan, yaitu:
- Keakraban
Keakraban merupakan
pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang. Hubungan interpersonal akan terpelihara
apabila kedua belah pihak sepakat tentang keakraban yang diperlukan.
b.
Kontrol
Kontrol disini mencakup
kesepakatan tentang siapa yang akan mengontrol siapa, dan bilamana. Konflik
terjadi pada umumnya bila masing-masing ingin berkuasa, atau tidak ada pihak
yang mau mengalah.
c.
Ketepatan respons
Ketepatan respons
artinya respons A harus diikuti respons B yang sesuai. Respons ini bukan saja
berkenaan dengan pesan verbal, tapi juga pesan nonverbal. Dalam konteks ini
respons dibagi dalam dua kelompok yaitu:
a. Konfirmasi, yaitu respons yang
dapat memperteguh hubungan interpersonal. Berikut ini adalah beberapa respons
yang termasuk konfirmasi: Pengakuan langsung, adalah menerima pernyataan dan
memberikan respons dengan segera.
Contoh: “Saya setuju. Anda benar .“
Perasaan positif, adalah mengungkapkan perasaan yang positif terhadap
apa yang sudah lawan bicara katakana.
Contoh: “Terima kasih atas pujianmu.”
1)
Respons meminta
keterangan, adalah meminta menerangkan isi sebuah pesan.
Contoh: “Ceritakan lebih banyak tentang itu.”
2)
Respons setuju, adalah
memperteguh apa yang telah dikatakan.
Contoh: “Saya setuju, ini memang keputusan
terbaik untuk mereka saat ini.”
3)
Respons suportif,
adalah mengungkapkan pengertian, dukungan, atau kalimat yang memperkuat.
Contoh: “Saya mengerti apa yang kamu rasakan.”
b.Diskonfirmasi, yaitu
respons yang justru merusak hubungan interpersonal. Berikut ini adalah beberapa
respons yang termasuk diskonfirmasi:
1) Respons sekilas, adalah memberikan respons pada suatu pernyataan, tetapi
dengan segera mengalihkan pembicaraan.
Contoh:
“Apakah konsernya bagus?” “Lumayan. Besok ke kampus jam berapa?”
2) Respons impersonal, adalah memberikan komentar dengan menggunakan kata
ganti orang ketiga.
Contoh: “Orang memang sering marah diperlakukan
seperti itu.”
3) Respons kosong, adalah respons yang tidak menghiraukan sama sekali baik memeberikan
sambutan verbal maupun nonverbal.
4) Respons yang tidak relevan, adalah seperti respons sekilas, yang
berusaha mengalihkan pembicaraan tanpa menghubungkan dengan pembicaraan yang
ada.
Contoh:
“Lagu ini enak didengar,” “Aku heran mengapa jam segini Maya belum pulang juga.
Menurut kamu kemana dia kira-kira?”
5) Respons interupsi, adalah memotong suatu pembicaraan yang sedang
terjadi.
Contoh:
“Maaf, bisakah kamu menjelaskan kembali maksud dari pembicaraanmu!”
6) Respons rancu, adalah respons yang berupa kalimat-kalimat yang kacau,
rancu, atau tidak lengkap.
7) Respons kontradiktif, adalah menyampaikan pesan verbal yang bertentangan
dengan pesan nonverbal.
Contoh:
Mengatakan dengan bibir mencibir dan intonasi suara merendahkan, “Memang, bagus
sekali pendapatmu.”
8) Keserasian suasana emosional
Keserasian suasana
emosional sangat penting saat berlangsungnya komunikasi. Ketika terjadi dua
orang berinteraksi dengan suasana emosional yang berbeda, maka interaksi
tersebut dapat berjalan tidak stabil.
- Pemutusan hubungan
Pemutusan hubungan dapat saja terjadi, dan juga dapat menimbulkan
terjadinya konflik. R.D. Nye dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) menyebutkan
terdapat lima sumber konflik, yaitu:
a)
Kompetisi, yaitu adanya
salah satu pihak yang bersaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang
lain.
b)
Dominasi, yaitu adanya
salah satu pihak yang berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang itu
merasa hak-haknya dilanggar.
c)
Kegagalan, yaitu
masing-masing pihak berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan bersama tidak
tercapai.
d)
Provokasi, yaitu adanya
salah satu pihak yang terus-menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung
perasaan pihak lain.
e)
Perbedaan nilai, yaitu
kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.
Proses Perkembangan
1.
Perkembangan
motor (fisik) siswa
Terdapat
empat macam faktor yang mendorong kelanjutan perkembangan motor skills anak
yang juga memungkinkan campur tangan orang tua dan guru dalam mengarahkannya.
Keempat faktor itu sebagai berikut:
a)
Pertumbuhan dan
perkembangan sistem syaraf. Pertumbuhan dan perkembangan kemampuannya membuat
intelegensi (kecerdasan) anak meningkat dan menibulkan pola tingkah laku yang
baru. Semakin baik perkembangan kemampuan sistem syaraf seorang anak akan
semakin baik dan beragam pula pola-pola tingkah laku yang dimilikinya. Akan
tetapi organ sitem syaraf ini lain dari yang lain, karena apabila rusak tidak
dapat diganti atau tumbuh lagi.
b)
Pertumbuhan otot-otot.
Otot merupakan jaringan sel-sel yang dapat berubah memanjang
dan juga sekaligus merupakan unit atau kesatuan sel yang memiliki daya
mengkerut. Diantara fungsi-fungsi pokoknya adalah sebagai pengikat organ-organ
lainnya dan sebagai jaringan pembuluh yang mendistribusikan sari makanan.
Peningkatan tegangan otot anak dapat menimbulkan perubahan dan peningkatan
aneka ragam kemampuan dan kekuatan jasmaninya. Perubahan ini sangat tampak dari
anak yang sehat dari tahun ke tahun dengan semakin banyaknya keterlibatan anak
tersebut dalam permainan yang bermacam-macam atau dalam membuat kerajinan
tangan yang semakin meningkat kualitas dan kuantitasnya dari masa ke masa.
c)
Perkembangan dan pertumbuhan fungsi kelenjar endokrin.
Kelenjar adalah alat tubuh yang mengahasilkan cairan
atau getah, seperti kelenjar keringat. Perubahan fungsi dari kelenjar-kelenjar
endokrin akan mengakibatkan berubahnya pola sikap dan tingkah laku seorang
remaja terhadap lawan jenisnya. Perubahan ini dapat berupa seringnya bekerja
sama dalam belajar atau beolah raga, perubahan pola perilaku yang bermaksud
menarik perhatian lawan jenis, berubahnya gaya dandanan/penampilan dan
lain-lain
d)
Perubahan struktur jasmani.
Semakin meningkat usia anak maka akan semakin menigkat
pula ukuran tinggi dan bobot serta proporsi tubuh pada umumnya. Perubahan jasmani
ini akan banyak berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan dan kecakapan motor
skills anak. Pengaruh perubahan fisik seorang siswa juga tampak pada sikap dan
perilakunya terhadap orang lain, karena perubahan fisik itu sendiri mengubah
konsep diri (self-concept) siswa tersebut.
PERKEMBANGAN KOGNITIF SISWA
Menurut Jean Piaget, perkembangan kognitif anak terdirir dari empat
tahapan, diantaranya:
a)
Tahap
sensory-motor. Tahap ini terjadi antara usia 0-2 tahun. Intelegensi sensory
motor dipandang sebagai intelegensi praktis. Anak pada usia ini belajar
bagaimana mengikuti dunia kebendaaan secara praktis dan belajar menimbulkan
efek tertentu tanpa memahami apa yang sedang mereka perbuat kecuali hanya
mencari cara melakukan perbuatan tersebut.
b)
Tahap
pre-oprational. Periode ini terjadi pada usia 2-7 tahun. Pada tahapan ini
anaksudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya yang harus ada dan biasanya
ada, walaupun benda tersebut sudah ditinggalkan, sudah tidak dilihat atau sudah
tidak pernah diengar lagi. Selain itu seorang anak mulai mampu menggunakan
kata-kata yang benar dan mampu pula mengekspresikan kalimat-kalimat pendek
tetapi efektif.
c)
Tahap concrete-operational.
Tahapan ini terjadi pada usia 7-11 tahun. Dalam tahapan ini seorang anak
memperoleh kemampuan yang disebut system of operations (satuan langkah
berpikir). Selain itu anak memiliki kemampuan konservsi (kemampuan dalam
memahami aspek-aspek kumulatif materi, seperti volume), penambahan golongan
benda (kemampuan dalam memahami cara mengkombinasikan benda-benda yang memiliki
kelas rendah dengan kelas atasnya lagi), dan pelipatgandaan golongan benda.
d)
Tahap
formal-operational. Usia tahapan ini adalah 11-15 tahun. Pada tahap ini seorang
remaja memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara serentak maupun
berurutan dua ragam kemampuan kognitifnya. Yaitu kapasitas menggunakan
hipotesis dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Dengan kemampuan
hipotesis, remaja mampu berpikir khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan
menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respon.
Sedangkan dengan memiliki kapasitas prinsip-prinsip abstrak, mereka mampu
mempelajari materi pelajaran yang abstrak, seperti ilmu matematika.
Menurut Goleman dan Hammen dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) terdapat
empat buah model dalam mengembangkan kecerdasan sosial bagi
peserta didik , yaitu:
1. Model pertukaran sosial (social exchange model)
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi
dagang. Pada model ini, orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan
sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley dalam Jalaluddin
Rakhmat (2011) menyimpulkan model ini sebagai asumsi dasar yang mendasari
seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan
tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan
ditinjau dari segi ganjaran dan biaya. Terdapat empat konsep pokok dalam model
ini, yaitu:
a.
Ganjaran
Ganjaran adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh
seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran dapat berupa uang, penerimaan sosial,
atau dukungan terhadap nilai. Nilai suatu ganjaran berbeda antara seseorang
dengan orang lain, dan antara waktu yang satu dengan waktu yang lain. Contoh:
Bagi orang miskin, uang lebih berharga daripada ilmu pengetahuan. Sedangkan
bagi orang kaya, mungkin penerimaan sosial lebih berharga daripada uang
b.
Biaya
Biaya adalah akibat yang dinilai negatif, yang terjadi
dalam suatu hubungan. Biaya dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan
keruntuhan harga diri. Biaya juga berubah-ubah sesuai waktu dan orang yang
terlibat.
Contoh: Bila seorang anak yang miskin berteman
dengan sekelompok anak yang kaya. Dalam bergaul, anak miskin ini sering diejek
oleh anak-anak kaya tersebut. Anak miskin tersebut mendapat biaya berupa
keruntuhan harga diri karena sering diejek oleh teman-temannya.
c.
Hasil atau laba
Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi dengan biaya. Bila seorang
individu merasa dalam sebuah hubungan tidak memperoleh hasil atau laba sama
sekali maka individu tersebut akan mencari hubungan yang lain. Contoh: Apabila kita memiliki sahabat yang
egois. Kita tetap akan membantunya, sekadar agar persahabatan dengan
orang tersebut tidak putus. Bila bantuan (biaya) disini ternyata lebih besar
daripada nilai persahabatan (ganjaran) yang ditermia, maka kita rugi atau tidak
mendapat laba.
d.
Tingkat perbandingan
Tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai
sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Ukuran
baku ini dapat berupa pengalaman masa lalu atau alternatif hubungan lain. Contoh: Bila seorang gadis pernah berpacaran
dengan seorang pria yang berjalan sangat bahagia, tetapi akhirnya putus. Saat
berpacaran dengan pria lain, maka gadis tersebut akan mengukur ganjaran
hubungan tersebut berdasarkan pengalamannya yang dulu.
2. Model peranan (role model)
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara.
Disini setiap orang harus memainkan peranannya sesuai dengan “naskah” yang
telah dibuat oleh masyarakat. Terdapat empat konsep pokok yang harus
diperhatikan dalam model ini untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik,
yaitu:
a. Ekspektasi peranan (role expectation)
Ekspektasi peranan
mengacu pada kewajiban, tugas, dan hal yang berkaitan dengan posisi tertentu
dalam kelompok. Contoh:
Guru diharapkan berperan sebagai pendidik yang bermoral dan menjadi teladan
yang baik bagi anak didiknya.
b. Tuntutan peranan (role demands)
Tuntutan peranan adalah
desakan sosial yang memaksa individu untuk memenuhi peranan yang telah
dibebankan kepadanya. Desakan sosial dapat berwujud sanksi sosial dan dikenakan
bila individu menyimpang dari perannya. Contoh:
Guru yang melakukan kekerasan pada anak didiknya akan mendapat sanksi dari
pemerintah, yang dapat berupa diberhentikan dari tugasnya untuk mengajar.
c. Keterampilan peranan (role skills)
Keterampilan peranan
adalah kemampuan memainkan peranan tertentu, kadang dsebut juga kompetensi
sosial. Sering dibedakan antara keterampilan kognitif dengan keterampilan
tindakan. Keterampilan kognitif menunjuk pada kemampuan individu untuk
mempersepsi apa yang diharapkan orang lain dari dirinya. Sedangkan keterampilan
tindakan menunjuk pada kemampuan melaksanakan peranan sesuai dengan harapan.
Contoh:
Guru memang diharapkan dapat berperan sebagai pendidik yang bermoral dan
menjadi teladan bagi anak didiknya. Untuk itu seorang guru harus berusaha memberikan
ilmunya semaksimal mungkin dan menjaga perilakunya agar dapat mewujudkan
harapan tersebut.
d. Konflik peranan
Konflik peranan terjadi
bila individu tidak sanggup mempertemukan berbagai tuntutan peranan yang
kontradiktif.
Contoh: Seorang ayah yang juga berperan sebagai
kepala sekolah, harus memberi hukuman pada anaknya yang berbuat kesalahan di
sekolah.
3. Model permainan
Model ini berasal dari psikiater Erie Berne (19964, 1972). Analisisnya
kemudian dikenal sebagai analisis transaksional. Dalam model ini, orang-orang
berhubungan dalam bermacam-macam permainan. Mendasari permainan ini adalah tiga
bagian kepribadian manusia yaitu:
a.
Orang tua (parent),
adalah aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang kita terima
dari orang tua kita atau orang yang kita anggap orang tua kita.
b.
Orang dewasa (adult),
adalah bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional.
c.
Anak (child), adalah
unsur kepribadian yang diambil dari perasaan dan penglaman kanak-kanak dan
mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas, dan kesenangan.
Contoh : Suatu hari
terdapat seorang suami yang sakit dan meminta perhatian dari istrinya
(kepribadian anak). Istri tersebut merawat sang suami seperti seorang ibu
(kepribadian orang tua). Namun, bila sang istri tidak menghiraukan dan menyuruh
sang suami untuk pergi ke dokter maka inilah kepribadian orang dewasa
(kepribadian anak dibalas dengan orang dewasa).
4. Model interaksional (interactional model)
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap
sistem memiliki sifat struktural, integratif, dan medan. Semua sistem, terdiri
atas subsistem-subsistem yang saling bergantung dan bertindak bersama sabagai
satu kesatuan. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama,
metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan, serta permainan yang
dilakukan.
D.
Ciri-ciri Kecerdasan Sosial
Karakteristik
seseorang yang memiliki kecerdasan sosial, yaitu[3]:
1.
Mampu
menghimpun banyak kawan di sekelilingnya
2.
Memiliki
kemampuan untuk memanej emosinya
3.
Memberi
banyak nasehat dan saran perbaikan
4.
Memiliki
daya tahan terhadap kegagalan
5.
Memiliki
keberanian untuk melanjutkan upaya dan usahanya setelah salah atau gagal
6.
Cepat
beradaptasi
7.
Memiliki
kecepatan intuisi
8.
Dapat
memahami orang lain dari bahasa tubuh mereka
9.
Memiliki
kemampuan berdialog secara bijak
10.
Menampilkan
diri secara baik dan tidak palsu
Penulis sains populer Daniel Goleman mengemukakan delapan unsur kecerdasan sosial, dengan membaginya ke dalam
dua kategori besar. Kategori pertama adalah kesadaran sosial, fasilitas sosial.
1.
Kesadaran sosial
Kesadaran sosial merujuk kepada bagaimana kita memahami keadaan batiniah
seseorang, memahami perasaan dan pikirannya. Yang termasuk dalam kategori ini
adalah:
a) Empati Dasar
Secara sederhana ampati berarti mampu memahami perasaan orang lain. Orang
dengan kecerdasan sosial mempunyai kemampuan untuk mampu merasakan perasaan
orang lain. Di samping itu, dia juga mampu merasakan isyarat-isyarat emosi
nonverbal seperti bersedih, kecewa, marah, kesal dan lain sebagainya.
b) Penyelarasan
Penyelarasan yang di maksud adalah bagaimana kita mampu untuk mendengarkan
dengan trebuka dan memahami apa yang di sampaikan. Hal ini berkaitan erat
dengan seni mendengarkan. Oleh sebab itu, seorang dengan kecerdasan sosial
mempunyai kemampuan untuk mendengarkan dengan
efektif. Dengan hal ini di harapkan mapu menyelaraskan diri dengan orang
lain.
c) Ketepatan Empatik
Unsur yang lebih dalam dari penyelesaian yaitu ketepatan empatik. Unsur ini
lebih menekankan kepada kemampuan untuk
memahami pikiran dan perasaan orang lain.
d) Pengertian Sosial
Sebagai unsur terakhir dari kategori kesadaran sosial, kita harus memahami
apa itu dunia sosial. Kita harus mempunyai pengetahuan tentang dunia sosial,
bagaimana seluk-beluknya serta bagaimana dunia sosial tersebut bekerja. Dengan
mengetahui hal tersebut, akan memudahkan bagi kita dalam berinteraksi dengan
orang lain.
2.
Fasilitas Sosial
Fasilitas sosial
merujuk kepada bagaimana seseorang berinteraksi dengan mulus dan efektif.
Unsur-unsur kecerdasan sosial yang termasuk kategori ini adalah:
a) Sinkroni
Adalah bagaimana kita bisa berinteraksi secara mulus denganmenggunakan
bahasa nonverbal. Bahasa nonverbal merupakan bahasa yang tidak menggunakan
kata-kata, tetapi lebihmenggunakan isyarat bahasa tubuh seperti ekspresi wajah,
pndangan mata, gerak tubuh dan sebagainya. orang yang memiliki kecerdasan
sosial mampu memahami bahasa tubuh dari orang yang berinteraksi dengannya.
Dengan ekspresi wajah lawan bicaranya, dia bisa mengetahui apakah lawan
bicaranya tersebut sedang marah, emosi, kesal atau kecewa.
b) Presentasi-diri
Hal ini berkaitan dengan bagaimana kita menampilkan diri kita dengan
efektif ketika berinteraksi dengan orang sekitar kita.
c) Pengaruh
Orang dengan kecerdasan sosial mampu memberikan pengaruh kepada orang-orang
yang berinteraksi dengannya. Dia mempunyai kemampuan untuk memengaruhi oarng
lain untuk berbuat sesuatu. Hal ini tentu saja di lakukan dengan menggunakan
kemampuan bicara yang hati-hati serta mampu untuk mengendalikan diri.
d) Kepedulian
Kepedulian merupakan unsur terakhir sekaligus merupakan bentuk kecerdasan
sosial yang paling tinggi. Unsur ini menekankan bagaimana kita peduli akan
kebutuhan orang lain. Kepedulian ini ditunjukkan dengan melakukan tindakan yang
sesuai dengan kebutuhan hal tersebut. Semakin kita bersimpati dengan seseorang
dalam kesusahan dan merasa peduli, semakin besarlah dorongan kita untuk
menolong orang lain.
Komponen dan Indikator Social Intelligence[4]
1. SI (Social Intelligence) internal
a)
Keinginan untuk
bersosial dari dalam diri
b) Menjalin hubungan yang baik dengan orang lain
c) Mengorbankan kepentingan diri demi orang lain
2. SI (Social Intelligence)
eksternal
a)
Adanya pengaruh untuk
bersosialisasi
b)
Menyelesaikan
permasalahan dalam berinteraksi Sosial
c)
Bersosial karena adanya
faktor yang lain (supaya mendapat sanjungan dan pujian dari orang lain)
Keterampilan Dasar dalam Kecerdasan
Sosial
Daniel Goleman, dalam bukunya yang berjudul Emosional Integence menyampaikan bahwa ada empat keterampilan dasar
yang mesti di kembangkan dalam kecerdasan sosial. Empat keterampilan dasar itu
adalah[5] :
1.
Mengorganisir Kelompok
Keterampilan esensial dari seorang pemimpin, ini menyangkut memprakarsai
dan mengkoordinasi upaya menggerakkan orang. Keterampilan ini merupakan bakat
yang terdapat pada sutradara atau produser sandiwara, perwira militer, dan
ketua-ketua yang efektif dalam organisasi dan segala macam unit. Ditempat
bermain, bakat ini dimiliki anak yang mengambil keputusan apa yang akan
dimainkan oleh setiap anggota atau yang menjadi ketua regu.
2.
Merundingkan Pemecahan
Bakat seorang mediator yang mencegah konflik atau menyelesaikan
konflik-konflik yang meletup. Orang yang mempunyai kemampuan ini, hebat dalam
mencapai kesepakatan dalam mengatasi atau menangani perbantahan, mereka cakap
dalam bidang diplomasi, arbitrasi atau hukum atau sebagai perantara atau
manajer operasi. Mereka ini adalah anak-anak yang mendamainkan perbantahan di tempat
bermain.
3.
Hubungan Pribadi
Empati dan bakat menjalin hubungan. Bakat ini memudahkan untuk masuk
kedalam lingkup pergaulan atau untuk mengenali dan merespons dengan tepat akan
perasaan dan keprihatinan orang lain, seni menjalin hubungan. Orang semacam ini
merupakan pemain tim yang bagus, pasangan hidup yang diandalkan, sahabat atau
rekan usaha yang setia, didunia bisnis mereka sukses sebagai tenaga penjual
atau para manajer atau dapat menjadi guru yang hebat. Bakat ini pada anak-anak
yang dapat bergaul praktis dengan siapa saja, mudah memasuki ruang lingkup
permainan, dan senang hati melakukannya. Anak-anak ini cenderung paling pintar
membaca emosi dari ungkapan wajah dan paling sukai oleh teman-teman sekelasnya.
4.
Analisi Sosial
Mampu mendeteksi dan mempunyai pemahaman tentang perasaan, motif, dan
keprihatinan orang lain. Pemahaman akan bagaimana perasaan orang lain ini dapat
membawa ke suatu keintiman yang menyenangkan atau perasaan kebersamaan. Dalam
bentuk yang terbaik, kemampuan ini dapat membuat seseorang menjadi ahli terapi
atau konselor yang kompeten atau bila digabungkan dengan bakat sastra akan
menjadi dramawan atau penulis novel yang berbakat.
E. Pengaruh
Kecerdasan Sosial bagi Kesuksesan dalam Kehidupan
Kecerdasan sosial pada seseorang akan membantu mengembangkan
keterampilan yang dimiliki dalam bersosialisasi. Selain dapat mengembangkan
keterampilan sosialnya, seseorang melihat hubungan antar pribadi tersebut
karena daya tarik yang dimiliki oleh individu lainnya dalam menciptakan
interaksi sosial. Hal ini di perkuat melalui salah satu faktor yang berkaitan
dengan hubungan interpersonal yaitu daya tarik. Dalam hukum daya tarik dapat di
jelaskan bahwa cara pandang orang lain terhadap diri individu akan dibentuk
melalui cara berpikir, bahasa dan tindakan yang khas.
Sosial IQ adalah ukuran kecerdasan sosial. IQ Sosial
didasarkan pada 100 titik skala, dimana 100 adalah skor rata-rata dan 140 (di
atas 140) dianggap sangat tinggi. Sosial IQ diukur dengan teknik tanya jawab.
Orang dengan IQ sosial yang rendah akan dianggap anak-anak dan belum dewasa,
bahkan jika orang yang berusia dewasa. Cara yang baik untuk mengukur IQ Sosial
adalah dengan menggunakan sistem IQ dasar, disesuaikan dengan keterampilan
sosial. Kebanyakan orang memiliki IQ sosial 85-115.
Orang dengan IQ sosial di bawah 80 mungkin memiliki gangguan spektrum
autisme, seperti sindrom Asperger dan skizofrenia. Orang-orang ini mungkin
mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan memerlukan pelatihan keterampilan
sosial atau dukungan tambahan dari spesialis jiwa. Orang-orang ini sulit
mendapatkan pekerjaan karena mereka tidak memiliki komunikasi interpersonal
yang diperlukan dan keterampilan sosial untuk sukses dalam angkatan kerja.
Orang-orang ini dapat bekerja dengan baik dalam pekerjaan meja kantor,
pekerjaan rumah atau pekerjaan yang tidak memerlukan banyak interaksi, seperti
konstruksi.
Orang dengan IQ sosial atas 120 dianggap sangat sosial terampil dan
menyesuaikan diri dengan baik, dan bisa bekerja dengan baik dengan pekerjaan
yang melibatkan kontak langsung dan komunikasi dengan orang-orang.
Lihat tabel berikut:
|
Tingkat Sosial Intelegent
|
Umur
|
|
120
(diatas rata-rata – sosial dewasa untuk usia)
|
20.4
|
|
110
|
18.7
|
|
100 (rata-rata)
|
17
|
|
90
|
15,3
|
|
80
|
13,6
|
|
70
(dibawah rata-rata)
|
11,9
|
|
60
|
10,2
|
|
50
|
8,5
|
|
40
|
6,8
|
|
30
|
5,1
|
|
20
|
3,4
|
Meningkatkan Kecerdasan Sosial[6]
Ada beberapa cara yang
bisa dicoba untuk meningkatkan kecerdasan sosial, diantaranya:
1.
Tubuh bicara lebih
banyak
2. Tubuh dapat lebih banyak bicara dari kata-kata.
3. Tubuh dirancang untuk berkomunikasi dengan orang lain.
4. 55% makna yang akan disampaikan dalam aktivitas tercermin pada sikap fisik.
5. Tanpa kata-kata tubuh dapat mengkomunikasikan apakah seseorang sedang
sedih, senang, marah, kecewa, bahagia, malu, takut, khawatir, gugup,antusias,
percaya diri, minder, cemas dsb.
6. Sadarilah hal tersebut
7. Mendengarkan aktif
F.
Kunci Kecerdasan Sosial
Secara garis besar, Albrecht menyebut adanya lima elemen kunci yang bisa
mengasah kecerdasan sosial kita, yang ia singkat menjadi kata SPACE, yaitu[7]:
1.
Situational awareness
(kesadaran situasional)
Makna dari kesadaran
ini adalah sebuah kehendak untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan serta
hak orang lain. Contoh, orang yang merokok di ruang ber-AC tanpa merasa
bersalah adalah orang yang tidak memiliki kesadaran situasional.
2.
Presense atau kemampuan
membawa diri
Bagaimana etika
penampilan, tutur kata, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan adalah
sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen ini. Setiap orang pasti akan
meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense yang dihadirkannya.
3.
Authenticity
(autensitas)
Authenticity
(autensitas) atau sinyal dari perilaku seseorang yang akan membuat orang lain
menilainya sebagai orang yang layak dipercaya (trusted), jujur, terbuka, dan
mampu menghadirkan ketulusan. Elemen ini amat penting, sebab hanya dengan aspek
inilah seseorang dapat membentangkan relasi yang mulia dan bermartabat.
4.
Clarity (kejelasan)
Aspek ini menjelaskan
sejauh mana seseorang dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan idenya
secara renyah dan persuasif, sehingga orang lain bisa menerimanya dengan tangan
terbuka. Sering seseorang memiliki gagasan yang baik, namun gagal
mengkomunikasikannya secara lebih tepat, sehingga atasan atau rekan kerja tidak
berhasil diyakinkan.
5.
Empathy (atau empati)
Aspek ini merujuk pada
sejauh mana seseorang dapat berempati pada gagasan dan penderitaan orang lain.
Sejauh mana kita memiliki keterampilan untuk bisa mendengarkan, memahami
pemikiran orang lain, dan melakukan aksi nyata untuk meringankan penderitaan
orang lain. Perasaan lapar dan haus dapat ditindaklanjuti dengan semangat
kedermawanan melalui zakat, infak, sedekah dan ibadah sosial lainnya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
1. Kecerdasan sosial merupakan kecerdasan yang mencakup interaksi kelompok dan
erat kaitannya dengan sosialisasi.
2. Karakteristik seseorang yang memiliki kecerdasan sosial, yaitu: Mampu
menghimpun banyak kawan di sekelilingnya, memiliki
kemampuan untuk memanej emosinya, memberi
banyak nasehat dan saran perbaikan, memiliki
daya tahan terhadap kegagalan, memiliki
keberanian untuk melanjutkan upaya dan usahanya setelah salah atau gagal, cepat
beradaptasi, memiliki kecepatan intuisi, dapat
memahami orang lain dari bahasa tubuh mereka, memiliki
kemampuan berdialog secara bijak, dan menampilkan
diri secara baik dan tidak palsu
3. Empat keterampilan dasar kecerdasan social antara lain :
mengorganisir kelompok, merundingkan pemecahan, hubungan pribadi dan analisis sosial.
4. Kecerdasan
sosial pada seseorang akan membantu mengembangkan keterampilan yang dimiliki
dalam bersosialisasi. Selain dapat mengembangkan keterampilan sosialnya,
seseorang melihat hubungan antar pribadi tersebut karena daya tarik yang
dimiliki oleh individu lainnya dalam menciptakan interaksi sosial. Hal ini di
perkuat melalui salah satu faktor yang berkaitan dengan hubungan interpersonal
yaitu daya tarik. Dalam hukum daya tarik dapat di jelaskan bahwa cara pandang
orang lain terhadap diri individu akan dibentuk melalui cara berpikir, bahasa
dan tindakan yang khas.
B.
Saran
Demikianlah makalah ini dibuat, semoga ilmu yang ada dalam
makalah ini menjadi berkah untuk kita semua. Dan sebagai seorang guru kita seharusnya
dapat menggunakan konsep kecerdasan social ini dalam dunia pendidikan yang
implikiasinya sangat berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang dalam kehidupan
bermasyarakat. Kemampuan
berfikir dapat banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar,
memecahkan masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi perpengaruh sekali
terhadap perkembangan sosial. Individu yang berkemampuan intelek tinggi akan
berkemampuan berbahasa dengan baik. Oleh karena itu jika perkembangan ketiganya
seimbang maka akan sangat menentukan keberhasilan perkembangan sosial individu
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Goleman, Daniel. 2006. Social Intelligence: The New Science of
Human Relationships
Hurlock, Elizabeth. 1980. Psikologi
Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Diterjemahkan oleh
Istiwidayanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga
Yusuf L N, Syamsu. 2004. Psikologi
Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosda Karya
Rakmat. Jalaluddin. 1993. Psikologi Komunikasi. Bandung :
RosdaKarya
[2] Jalaluddin Rakhmat. 1993. Psikologi Komunikasi . Bandung : Rosda Karya
h. 120-128
[3] http://m.dakwatuna.com/2011/08/14212/kecerdasan-sosial/agust:23rd,2011 by Mustafa Ahmad
Rahim,Lc
[5] http://siraitrina.wordpress.com/2010/10/13/modul-3-kecerdasan-sosial/. Di akses
tgl 25 april 2013
[7] http://siraitrina.wordpress.com/2010/10/13/modul-3-kecerdasan-sosial/. Di akses tgl 25 april 2013