Jumat, 10 Mei 2013

physics





Makalah Psikologi Pendidikan
Tentang


Kecerdasan Sosial & Implikasinya
 Terhadap Kesuksesan


Oleh Kelompok  IX


Muslim. M ( 10 107 029)
Nursyat Diah (10 107 032)
Rahma Wati (10 107 034)

Dosen
Drs. Masril, M. Pd., Kons



JURUSAN TARBIYAH  PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
BATUSANGKAR
1434 H/2013 M
KATA PENGANTAR


Alhamdulillah segala puji dan syukur kita ucapkan kepada Allah SWT  semesta alam, yang telah memberikan kita kesehatan  sehingga kita dapat melaksanakan aktivitas dengan segala manfaat yang ada dan dapat memberikan  kita kecerdasan  dalam berfikir sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah tentang Kecerdasan Sosial dan Implikasinya Terhadap Kesuksesan. Dengan kecerdasan itu kita dapat memberikan karya-karya terbaik untuk agama, bangsa, dan tanah air tercinta.
Shalawat dan salam  kita ucapkan kepada Allah agar disampaikan-Nya  kepada junjungan kita yaitu Nabi Muhammad  SAW beserta keluarganya, sahabat dan orang-orang yang selalu istiqomah.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Hal ini tidak terlepas dari keterbatasan kami sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan. Untuk itu kami mohon maaf  jika ada kesalahan dalam pengetikan dan lain sebagainya.
   Dengan ini kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna kesempurnaan  makalah  ini mudah-mudahan makalah bermanfaat bagi kita semua.




Batusangkar, 23 April  2013


Penyusun






DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………        2
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………...        3

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang      ……………………………………………………………    4
B.     Rumusan Masalah ……………………………………………………………    4
C.     Batasan Masalah   ……………………………………………………………    5
D.    Tujuan Penulisan   ……………………………………………………………    5

BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kecerdasan Sosial       ……………………………………………    6
B.     Faktor  yang Mempengaruhi Kecerdasan Sosial   ……………………………    7
C.     Proses Perkembangan Kecerdasan Sosial pada Setiap Individu, Peserta Didik,
dan Cara Mengembangkannya bagi Peserta Didik……...………………....        10
D.    Ciri-ciri Kecerdasan Sosial…………………………………………………....    20
E.     Pengaruh Kecerdasan Sosial bagi Kesuksesan dalam Kehidupan……………    24

BAB III PENUTUP
A.      Kesimpulan ……………………………………………………………………    29
B.       Saran           ……………………………………………………………………    29

DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar   Belakang
            Tentunya kita telah mengetahui bahwa manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan lingkungan sebagai sarana untuk kehidupan sosialnya. Mereka tidak pernah dapat hidup sendiri di dunia, oleh karenanya  manusia tentu membutuhkan orang lain dan selalu berusaha melakukan interaksi sosial dengan menjalin hubungan sosial dengan orang lain untuk mencapai kebutuhan hidupnya. 
            Ada berbagai jenis kecerdasan yang mempengaruhi kesuksesan seseorang. Sebagian masyarakat menganggap kecerdasan intelektual-lah yang paling berpengaruh. Padahal, terdapat sebuah kecerdasan yang sangat ampuh untuk membantu seseorang menjadi sukses, kecerdasan ini disebut kecerdasan sosial.
            Dalam kehidupan bermasyarakat seringkali kita menemukan berbagai fenomena social. Misalnya dalam kehidupan bertetangga  ; sebut saja Bu Ana dan Bu Dewi sedang membicarakan tetangga barunya yang sejak pindah rumah hingga hitungan bulan ketujuh tidak pernah bertegur sapa dengan tetangga lainnya. Memang perilaku ini tidaklah menganggu kehidupan bermasyarakat tetapi cukup meresahkan bagi warga kampung tersebut yang memiliki keeratan hubungan social disbanding dengan warga perumahan mewah sebelah kampung itu.
            Ternyata kepribadian yang dimiliki tetangga baru itu bukanlah perilaku yang menyimpang, apalagi criminal, tetapi hanyalah perilaku yang kursng ramah, cuek, dan yidak mau tahu urusan oreang lain di sekitarnya. Mungkin di pemukiman lain hal tersebut justru menjadi nilai tambah tetapi bilai ia tinggal di kampong tempat tinggal  Bu Ana maka ia akan menjadi gunjingan sebagai pribadi yang tidak memiliki rasa social pada sesama. Kepribadian seperti apa yang menjadikan ia memiliki sikap-sikap social yang diinginkan oleh masyarakat setempat?  Dari  uraian cerita di atas tergambar bahwa kecerdasan social seseorang  berpengaruh terhadap kehidupan seseorang.
B.     Rumusan  Masalah  
Dari latar belakang masalah yang tertera di atas tentang sedikit penjelasan penulis pun mengkategorikan kedalam beberapa rumusan masalah, diantaranya:
1.         Apa kecerdasan social itu?
2.         Apa saja factor yang mempengaruhi kecerdasan social seseorang?
3.         Jelaskan ciri-ciri kecerdasan social!
4.         Apa keterampilan dasar dalam kecerdasan social?
5.         Bagaimana proses perkembangankecerdasan social pada setiap individu?
6.         Bagaimana  pengaruh kecerdasan social bagi kesuksesan dalam kehidupan?

C.    Batasan Masalah

Kami memberi batasan makalah ini antara lain:

1.      Pengertian kecerdasan sosial
2.      Faktor  yang mempengaruhi kecerdasan sosial
3.      Ciri-ciri kecerdasan sosial
4.      Ketempilan dasar dalam kecerdasan sosial
5.      Proses perkembangannya pada setiap individu, peserta didik, dan cara mengembangkannya bagi peserta didik
6.      Pengaruh kecerdasan sosial bagi kesuksesan dalam kehidupan
D.    Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan.
2.      Agar kita memahami tentang kecerdasan social dan implikasinya terhadap kesuksesan.









BAB II
KECERDASAN SOSIAL DAN IMPLIKASINYA
 TERHADAP KESUKSESAN

A.    Pengertian Kecerdasan Sosial
Kecerdasan sosial merupakan kecerdasan yang mencakup interaksi kelompok dan erat kaitannya sosialisasi. Kemampuan untuk mengenal diri sendiri dan untuk mengetahui orang lain adalah bagian yang tak terpisahkan dari kondisi manusia.
Kecerdasan sosial menurut beberapa ahli:
1.      Menurut Buzan
Kecerdasan sosial adalah ukuran kemampuan diri seseorang dalam pergaulan di masyarakat dan kemampuan berinteraksi sosial dengan orang-orang di sekeliling atau sekitarnya.
2.      Suean Robinson Ambron (1981)
Mengartikan sosialisasi itu sebagai proses belajar yang membimbing seseorang ke arah perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif. (Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, hal.123).
3.      Stephen Jay Could, On Intelligence, Monash University: 1994
Kecerdasan sosial merupakan suatu kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia. Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini.
4.      Amstrong (1994)
Komponen penting membangun kecerdasan sosial (social intelegence) adalah komunikasi dan pendidikan. Kecerdasan sosial adalah kematangan kesadaran pikiran dan budi pekerti untuk berperan secara sosial dalam kelompok atau masyarakat.
5.      Pakar psikologi pendidikan Gadner (1983)
Menyebut kompetensi sosial itu sebagai social intellegence atau kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial merupakan salah satu dari sembilan kecerdasan (logika, bahasa, musik, raga, ruang, pribadi, alam, dan kuliner) yang berhasil diidentifikasi oleh Gadner.
6.      Menurut definisi asli Edward Thorndike
Kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk memahami dan mengelola pria dan wanita, anak laki-laki dan perempuan, untuk bertindak bijaksana dalam hubungan manusia. Hal ini setara dengan kecerdasan interpersonal, salah satu jenis kecerdasan yang diidentifikasi dalam Howard Gardner ‘s Teori kecerdasan ganda , dan erat terkait dengan teori pikiran .
7.      Menurut Sean Foleno
Kecerdasan sosial adalah kemampuan seseorang untuk memahami dirinya atau lingkungannya secara optimal dan bereaksi dengan tepat untuk melakukan sosial sukses.
Definisi Teoritis
Kecerdasan sosial adalah kemampuan yang mencapai kematangan pada kesadaran berpikir dan bertindak untuk menjalankan peran manusia sebagai makhluk sosial di dalam menjalin hubungan dengan lingkungan atau kelompok masyarakat.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat dipahami bahwa kecerdasan sosial sangatlah penting dalam menunjang kehidupan bermasyarakat, sukses tidak identik dengan kemampuan IQ, karena sesungguhnya kecerdasan sosial-lah yang sangat berperan besar dalam kehidupan. Banyak orang yang IQ nya diatas rata-rata mampu menggapai kesuksesan dengan meningkatkan kemampuan social intelligence ini.

B.     Faktor  yang Mempengaruhi Kecerdasan Sosial
Faktor-faktor tersebut antara lain :
[1]
1.      Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan individu, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga, pola pergaulan, etika berinteraksi dengan orang lain banyak ditentukan oleh keluarga.
2.      Kematangan Pribadi
Untuk dapat bersosilisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik dan psikis sehingga mampu mempertimbangkan proses sosial, memberi dan menerima nasehat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional, disamping itu kematangan dalam berbahasa juga sangat menentukan.
3.      Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga dalam masyarakat. Perilaku individu akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya.
4.      Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, individu memberikan warna kehidupan sosial didalam masyarakat dan kehidupan mereka.
Kapasitas Mental : Emosi dan Intelegensi
Kemampuan berfikir dapat banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi perpengaruh sekali terhadap perkembangan sosial. Individu yang berkemampuan intelek tinggi akan berkemampuan berbahasa dengan baik. Oleh karena itu jika perkembangan ketiganya seimbang maka akan sangat menentukan keberhasilan perkembangan sosial individu tersebut.
1.   Percaya (trust).  
Percaya didevinisikan sebagai mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dalam situasi yang penuh resiko. Ada situasi yang menimbulkan resiko. Bila orang menaruh kepercayaan kepada seseorang, ia akan menghadapi resiko. Resiko itu dapat berupa kerugiaan yang anda alami.
Faktor yang menaruh kepercayaan kepada orang lain berarti menyadari bahwa akibat-akibatnya bergantung kepada orang lain.  Orang yang yakin bahwa perilaku orang lain akan berakibat baik baginya.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap percaya:
a.       Karakteristik dan maksud orang lain. Orang yang menaruh kepercayaan kepada orang  yang dianggap memiliki kemampuan, keterampilan atau pengalaman dalam bidang tertentu.
b.      Hubungan kekuasaan. Percaya apabila orang-orang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain.
c.       Sifat dan kualitas komunikasi. Bila komunikasi bersifat terbuka, bila maksud dan tujuan sudah jelas, ekspektasi sudah dinyatakan maka akan tumbuh sikap percaya.
Ada tiga faktor utama yang dapat menumbuhkan sikap percaya atau mengembangkan komunikasi yang didasarkan pada sikap saling percaya. Menerima, empati dan kejujuran.
Menerima adalah kemampuan berhubungan dengan orang lain tampa menilai dan berusaha mengendalikan. Menerima adalah sikap melihat orang lain sebagai manusia, sebagai individu yang patut dihargai.
Empati adalah memahami orang lain yang tidak mempunyai arti emosinal bagi kita, sebagai keadaan ketika pengamat bereaksi secara emosional karena ia menanggapi orang lain siap mengalami suatu emosional.
Kejujuran adalah faktor ketiga yang menumbuhkan sikap percaya. Kejujuran mengakibatkan perilaku kita dapat diduga, ini mendorong orang-orang untuk percaya pada kita. 
2.  Sikap suportif
Sikap suportif adalah sikap yang mengurangi sikap depentif dalam komunikasi dalam penelitian gaib di ungkapkan bahwa makin sering orang menggunakan perilaku depentif, makin besar kemungkinan komunikasi depentif, komunikasi depentif berkurang dalam perilaku suportif, ketika orang menggunakan perilaku ke sebelah kanan.
a.       Evaluasi dan Deskripsi. Evaluasi artinya penilaian terhadap orang lain, memuji atau mengancam. Deskripsi artinya penyampaian pesan dan persepsi  antara tampa menilai.
b.      Control dan Orientasi Masalah. Perilaku kontrol adalah berusaha untuk mengubah orang lain, mengendalikan perilakunya, mengubah sikap,  pendapat dan tindakannya.
c.       Strategi dan spontanitas. Stategi adalah penggunaan tipuan-tipuan atau manipulasi untuk mempengaruhi orang lain.
d.      Netralitas dan Empati. Netralitas berarti sikap inpersonal memperlakukan orang lain tidak sebagai persona, melainkan sebagi objek.
e.       Superioritas dan Persamaan. Superioritas berarti sikap menunjukkan anda lebih tinggi atau lebih baik dari pada orang lain karena status, kekuasaan, kemampuan intelektual, kekayaan atau kecantikan.
f.       Kepastian dan Provisionalisme. Orang yang memiliki kepastian berarti memiliki dogmatis, keinginan menang sendiri dan melihat pendapatnya sebagai kebenaran mutlak yang tidak dapat diganggu gugat
3.  Sikap terbuka.
Sikap terbuka amat besar pengaruhnya  dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif
Kriteria sikap orang terbuka:
a.       Menilai pesan secara objektif, dengan menggunakan data dan keajengan logika.
b.      Membedahkan dengan muda melihat nuansa
c.       Berorientasi pada isi
d.      Mencari informasi dari berbagai sumber.
e.       Lebih bersifat profesional dan bersedia mengubah kepercayannya.
f.       Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaannya.

C.    Proses Perkembangan Kecerdasan Sosial  pada Setiap Individu, Peserta Didik, dan Cara Mengembangkannya bagi Peserta Didik[2]
Pada kecerdasan sosial , hubungan interpersonal / antar individi berlangsung melalui tiga tahap, yaitu:
  1. Pembentukan hubungan
Tahap ini sering disebut dengan tahap perkenalan (acquaintance process). Beberapa orang peneliti seperti Newcomb (1961), Berger (1973), Zunin (1972), dan Duck (1976) telah menemukan hal-hal yang menarik dari proses perkenalan. Fase pertama adalah fase kontak permulaan (initial contact phase) yang ditandai oleh usaha dari kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya.  Masing-masing pihak berusaha menggali identitas, sikap, dan nilai pihak lain. Bila terdapat kesamaan, maka mulailah dilakukan proses pengungkapan diri. Proses saling menilik ini disebut Newcomb sebagai saling menyelidiki (reciprocal scanning). Pada tahap ini informasi yang dicari berkisar mengenai data demografi, usia, pekerjaan, tempat tinggal, dsb.
Menurut Charles R. Berger dalam Jalaluddin Rakhmat (2011), informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh kategori yaitu:
a.       Informasi demografis
b.       Sikap dan pendapat (tentang orang atau objek)
c.        Rencana yang akan datang
d.       Kepribadian
e.        Perilaku pada masa lalu
f.        Orang lain
g.        Hobi dan minat
Tidak selalu informasi yang kita peroleh didapat dari komunikasi verbal. Kita juga membentuk kesan dari petunjuk proksemik, kinesik, paralinguistic, dan artifaktual. Menurut Willian Brooks dan Philip Emmert dalam Jalaluddin Rakhmat (2011), kesan pertama sangat menentukan, karena itu hal-hal yang pertama kelihatan sangat menentukan kesan pertama.
  1. Peneguhan hubungan
Hubungan interpersonal tidak bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, perubahan memerlukan adanya tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan. Terdapat empat faktor yang sangat penting dalam memelihara keseimbangan, yaitu:
  1. Keakraban
Keakraban merupakan pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang. Hubungan interpersonal akan terpelihara apabila kedua belah pihak sepakat tentang keakraban yang diperlukan.
b.       Kontrol
Kontrol disini mencakup kesepakatan tentang siapa yang akan mengontrol siapa, dan bilamana. Konflik terjadi pada umumnya bila masing-masing ingin berkuasa, atau tidak ada pihak yang mau mengalah.
c.        Ketepatan respons
Ketepatan respons artinya respons A harus diikuti respons B yang sesuai. Respons ini bukan saja berkenaan dengan pesan verbal, tapi juga pesan nonverbal. Dalam konteks ini respons dibagi dalam dua kelompok yaitu:
a.        Konfirmasi, yaitu respons yang dapat memperteguh hubungan interpersonal. Berikut ini adalah beberapa respons yang termasuk konfirmasi: Pengakuan langsung, adalah menerima pernyataan dan memberikan respons dengan segera.
Contoh:     “Saya setuju. Anda benar .“
Perasaan positif, adalah mengungkapkan perasaan yang positif terhadap apa yang sudah lawan bicara katakana.
Contoh:     “Terima kasih atas pujianmu.”
1)       Respons meminta keterangan, adalah meminta menerangkan isi sebuah pesan.
Contoh:     “Ceritakan lebih banyak tentang itu.”
2)       Respons setuju, adalah memperteguh apa yang telah dikatakan.
Contoh:     “Saya setuju, ini memang keputusan terbaik untuk mereka saat ini.”
3)       Respons suportif, adalah mengungkapkan pengertian, dukungan, atau kalimat yang memperkuat.
Contoh:     “Saya mengerti apa yang kamu rasakan.”
b.Diskonfirmasi, yaitu respons yang justru merusak hubungan interpersonal. Berikut ini adalah beberapa respons yang termasuk diskonfirmasi:
1)      Respons sekilas, adalah memberikan respons pada suatu pernyataan, tetapi dengan segera mengalihkan pembicaraan.
Contoh:     “Apakah konsernya bagus?” “Lumayan. Besok ke kampus jam berapa?”
2)      Respons impersonal, adalah memberikan komentar dengan menggunakan kata ganti orang ketiga.
Contoh:     “Orang memang sering marah diperlakukan seperti itu.”
3)      Respons kosong, adalah respons yang tidak menghiraukan sama sekali baik memeberikan sambutan verbal maupun nonverbal.
4)      Respons yang tidak relevan, adalah seperti respons sekilas, yang berusaha mengalihkan pembicaraan tanpa menghubungkan dengan pembicaraan yang ada.
Contoh:     “Lagu ini enak didengar,” “Aku heran mengapa jam segini Maya belum pulang juga. Menurut kamu kemana dia kira-kira?”
5)      Respons interupsi, adalah memotong suatu pembicaraan yang sedang terjadi.
Contoh:     “Maaf, bisakah kamu menjelaskan kembali maksud dari pembicaraanmu!”
6)      Respons rancu, adalah respons yang berupa kalimat-kalimat yang kacau, rancu, atau tidak lengkap.
7)      Respons kontradiktif, adalah menyampaikan pesan verbal yang bertentangan dengan pesan nonverbal.
Contoh:     Mengatakan dengan bibir mencibir dan intonasi suara merendahkan, “Memang, bagus sekali pendapatmu.”
8)      Keserasian suasana emosional
Keserasian suasana emosional sangat penting saat berlangsungnya komunikasi. Ketika terjadi dua orang berinteraksi dengan suasana emosional yang berbeda, maka interaksi tersebut dapat berjalan tidak stabil.
  1. Pemutusan hubungan
Pemutusan hubungan dapat saja terjadi, dan juga dapat menimbulkan terjadinya konflik. R.D. Nye dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) menyebutkan terdapat lima sumber konflik, yaitu:
a)       Kompetisi, yaitu adanya salah satu pihak yang bersaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan orang lain.
b)       Dominasi, yaitu adanya salah satu pihak yang berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang itu merasa hak-haknya dilanggar.
c)       Kegagalan, yaitu masing-masing pihak berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan bersama tidak tercapai.
d)       Provokasi, yaitu adanya salah satu pihak yang terus-menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung perasaan pihak lain.
e)       Perbedaan nilai, yaitu kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.
Proses Perkembangan
1.       Perkembangan motor (fisik) siswa
Terdapat empat macam faktor yang mendorong kelanjutan perkembangan motor skills anak yang juga memungkinkan campur tangan orang tua dan guru dalam mengarahkannya. Keempat faktor itu sebagai berikut:

a)       Pertumbuhan dan perkembangan sistem syaraf. Pertumbuhan dan perkembangan kemampuannya membuat intelegensi (kecerdasan) anak meningkat dan menibulkan pola tingkah laku yang baru. Semakin baik perkembangan kemampuan sistem syaraf seorang anak akan semakin baik dan beragam pula pola-pola tingkah laku yang dimilikinya. Akan tetapi organ sitem syaraf ini lain dari yang lain, karena apabila rusak tidak dapat diganti atau tumbuh lagi.

b)      Pertumbuhan otot-otot.

Otot merupakan jaringan sel-sel yang dapat berubah memanjang dan juga sekaligus merupakan unit atau kesatuan sel yang memiliki daya mengkerut. Diantara fungsi-fungsi pokoknya adalah sebagai pengikat organ-organ lainnya dan sebagai jaringan pembuluh yang mendistribusikan sari makanan. Peningkatan tegangan otot anak dapat menimbulkan perubahan dan peningkatan aneka ragam kemampuan dan kekuatan jasmaninya. Perubahan ini sangat tampak dari anak yang sehat dari tahun ke tahun dengan semakin banyaknya keterlibatan anak tersebut dalam permainan yang bermacam-macam atau dalam membuat kerajinan tangan yang semakin meningkat kualitas dan kuantitasnya dari masa ke masa.

c)      Perkembangan dan pertumbuhan fungsi kelenjar endokrin.
Kelenjar adalah alat tubuh yang mengahasilkan cairan atau getah, seperti kelenjar keringat. Perubahan fungsi dari kelenjar-kelenjar endokrin akan mengakibatkan berubahnya pola sikap dan tingkah laku seorang remaja terhadap lawan jenisnya. Perubahan ini dapat berupa seringnya bekerja sama dalam belajar atau beolah raga, perubahan pola perilaku yang bermaksud menarik perhatian lawan jenis, berubahnya gaya dandanan/penampilan dan lain-lain

d)     Perubahan struktur jasmani.
Semakin meningkat usia anak maka akan semakin menigkat pula ukuran tinggi dan bobot serta proporsi tubuh pada umumnya. Perubahan jasmani ini akan banyak berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan dan kecakapan motor skills anak. Pengaruh perubahan fisik seorang siswa juga tampak pada sikap dan perilakunya terhadap orang lain, karena perubahan fisik itu sendiri mengubah konsep diri (self-concept) siswa tersebut.

PERKEMBANGAN KOGNITIF SISWA
Menurut Jean Piaget, perkembangan kognitif anak terdirir dari empat tahapan, diantaranya:

a)       Tahap sensory-motor. Tahap ini terjadi antara usia 0-2 tahun. Intelegensi sensory motor dipandang sebagai intelegensi praktis. Anak pada usia ini belajar bagaimana mengikuti dunia kebendaaan secara praktis dan belajar menimbulkan efek tertentu tanpa memahami apa yang sedang mereka perbuat kecuali hanya mencari cara melakukan perbuatan tersebut.

b)       Tahap pre-oprational. Periode ini terjadi pada usia 2-7 tahun. Pada tahapan ini anaksudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya yang harus ada dan biasanya ada, walaupun benda tersebut sudah ditinggalkan, sudah tidak dilihat atau sudah tidak pernah diengar lagi. Selain itu seorang anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang benar dan mampu pula mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif.

c)       Tahap concrete-operational. Tahapan ini terjadi pada usia 7-11 tahun. Dalam tahapan ini seorang anak memperoleh kemampuan yang disebut system of operations (satuan langkah berpikir). Selain itu anak memiliki kemampuan konservsi (kemampuan dalam memahami aspek-aspek kumulatif materi, seperti volume), penambahan golongan benda (kemampuan dalam memahami cara mengkombinasikan benda-benda yang memiliki kelas rendah dengan kelas atasnya lagi), dan pelipatgandaan golongan benda.

d)      Tahap formal-operational. Usia tahapan ini adalah 11-15 tahun. Pada tahap ini seorang remaja memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara serentak maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitifnya. Yaitu kapasitas menggunakan hipotesis dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Dengan kemampuan hipotesis, remaja mampu berpikir khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respon. Sedangkan dengan memiliki kapasitas prinsip-prinsip abstrak, mereka mampu mempelajari materi pelajaran yang abstrak, seperti ilmu matematika.
Menurut Goleman dan Hammen dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) terdapat empat buah model dalam mengembangkan kecerdasan sosial bagi peserta didik , yaitu:
1.      Model pertukaran sosial (social exchange model)
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Pada model ini, orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) menyimpulkan model ini sebagai asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya. Terdapat empat konsep pokok dalam model ini, yaitu:
a.       Ganjaran
Ganjaran adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran dapat berupa uang, penerimaan sosial, atau dukungan terhadap nilai. Nilai suatu ganjaran berbeda antara seseorang dengan orang lain, dan antara waktu yang satu dengan waktu yang lain. Contoh:     Bagi orang miskin, uang lebih berharga daripada ilmu pengetahuan. Sedangkan bagi orang kaya, mungkin penerimaan sosial lebih berharga daripada uang
b.       Biaya
Biaya adalah akibat yang dinilai negatif, yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri. Biaya juga berubah-ubah sesuai waktu dan orang yang terlibat. Contoh:     Bila seorang anak yang miskin berteman dengan sekelompok anak yang kaya. Dalam bergaul, anak miskin ini sering diejek oleh anak-anak kaya tersebut. Anak miskin tersebut mendapat biaya berupa keruntuhan harga diri karena sering diejek oleh teman-temannya.
c.        Hasil atau laba
Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi dengan biaya. Bila seorang individu merasa dalam sebuah hubungan tidak memperoleh hasil atau laba sama sekali maka individu tersebut akan mencari hubungan yang lain. Contoh:     Apabila kita memiliki sahabat yang egois. Kita tetap akan membantunya,  sekadar agar persahabatan dengan orang tersebut tidak putus. Bila bantuan (biaya) disini ternyata lebih besar daripada nilai persahabatan (ganjaran) yang ditermia, maka kita rugi atau tidak mendapat laba.
d.       Tingkat perbandingan
Tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman masa lalu atau alternatif hubungan lain. Contoh:     Bila seorang gadis pernah berpacaran dengan seorang pria yang berjalan sangat bahagia, tetapi akhirnya putus. Saat berpacaran dengan pria lain, maka gadis tersebut akan mengukur ganjaran hubungan tersebut berdasarkan pengalamannya yang dulu.
2.      Model peranan (role model)
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memainkan peranannya sesuai dengan “naskah” yang telah dibuat oleh masyarakat. Terdapat empat konsep pokok yang harus diperhatikan dalam model ini untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik, yaitu:
a.       Ekspektasi peranan (role expectation)
Ekspektasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas, dan hal yang berkaitan dengan posisi tertentu dalam kelompok. Contoh:     Guru diharapkan berperan sebagai pendidik yang bermoral dan menjadi teladan yang baik bagi anak didiknya.
b.      Tuntutan peranan (role demands)
Tuntutan peranan adalah desakan sosial yang memaksa individu untuk memenuhi peranan yang telah dibebankan kepadanya. Desakan sosial dapat berwujud sanksi sosial dan dikenakan bila individu menyimpang dari perannya. Contoh:     Guru yang melakukan kekerasan pada anak didiknya akan mendapat sanksi dari pemerintah, yang dapat berupa diberhentikan dari tugasnya untuk mengajar.
c.       Keterampilan peranan (role skills)
Keterampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu, kadang dsebut juga kompetensi sosial. Sering dibedakan antara keterampilan kognitif dengan keterampilan tindakan. Keterampilan kognitif menunjuk pada kemampuan individu untuk mempersepsi apa yang diharapkan orang lain dari dirinya. Sedangkan keterampilan tindakan menunjuk pada kemampuan melaksanakan peranan sesuai dengan harapan.
Contoh:     Guru memang diharapkan dapat berperan sebagai pendidik yang bermoral dan menjadi teladan bagi anak didiknya. Untuk itu seorang guru harus berusaha memberikan ilmunya semaksimal mungkin dan menjaga perilakunya agar dapat mewujudkan harapan tersebut.
d.      Konflik peranan
Konflik peranan terjadi bila individu tidak sanggup mempertemukan berbagai tuntutan peranan yang kontradiktif. Contoh:     Seorang ayah yang juga berperan sebagai kepala sekolah, harus memberi hukuman pada anaknya yang berbuat kesalahan di sekolah.
3.      Model permainan
Model ini berasal dari psikiater Erie Berne (19964, 1972). Analisisnya kemudian dikenal sebagai analisis transaksional. Dalam model ini, orang-orang berhubungan dalam bermacam-macam permainan. Mendasari permainan ini adalah tiga bagian kepribadian manusia yaitu:
a.       Orang tua (parent), adalah aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang kita terima dari orang tua kita atau orang yang kita anggap orang tua kita.
b.       Orang dewasa (adult), adalah bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional.
c.        Anak (child), adalah unsur kepribadian yang diambil dari perasaan dan penglaman kanak-kanak dan mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas, dan kesenangan.
Contoh : Suatu hari terdapat seorang suami yang sakit dan meminta perhatian dari istrinya (kepribadian anak). Istri tersebut merawat sang suami seperti seorang ibu (kepribadian orang tua). Namun, bila sang istri tidak menghiraukan dan menyuruh sang suami untuk pergi ke dokter maka inilah kepribadian orang dewasa (kepribadian anak dibalas dengan orang dewasa).
4.      Model interaksional (interactional model)
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif, dan medan. Semua sistem, terdiri atas subsistem-subsistem yang saling bergantung dan bertindak bersama sabagai satu kesatuan. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan, serta permainan yang dilakukan.
D.    Ciri-ciri Kecerdasan Sosial
Karakteristik seseorang yang memiliki kecerdasan sosial, yaitu[3]:
1.      Mampu menghimpun banyak kawan di sekelilingnya
2.      Memiliki kemampuan untuk memanej emosinya
3.      Memberi banyak nasehat dan saran perbaikan
4.      Memiliki daya tahan terhadap kegagalan
5.      Memiliki keberanian untuk melanjutkan upaya dan usahanya setelah salah atau gagal
6.      Cepat beradaptasi
7.      Memiliki kecepatan intuisi
8.      Dapat memahami orang lain dari bahasa tubuh mereka
9.      Memiliki kemampuan berdialog secara bijak
10.  Menampilkan diri secara baik dan tidak palsu
Penulis sains populer Daniel Goleman mengemukakan delapan unsur kecerdasan sosial, dengan membaginya ke dalam dua kategori besar. Kategori pertama adalah kesadaran sosial, fasilitas sosial.  
1.      Kesadaran sosial
Kesadaran sosial merujuk kepada bagaimana kita memahami keadaan batiniah seseorang, memahami perasaan dan pikirannya. Yang termasuk dalam kategori ini adalah:
a)      Empati Dasar
Secara sederhana ampati berarti mampu memahami perasaan orang lain. Orang dengan kecerdasan sosial mempunyai kemampuan untuk mampu merasakan perasaan orang lain. Di samping itu, dia juga mampu merasakan isyarat-isyarat emosi nonverbal seperti bersedih, kecewa, marah, kesal dan lain sebagainya.
b)      Penyelarasan
Penyelarasan yang di maksud adalah bagaimana kita mampu untuk mendengarkan dengan trebuka dan memahami apa yang di sampaikan. Hal ini berkaitan erat dengan seni mendengarkan. Oleh sebab itu, seorang dengan kecerdasan sosial mempunyai kemampuan untuk mendengarkan dengan  efektif. Dengan hal ini di harapkan mapu menyelaraskan diri dengan orang lain.
c)      Ketepatan Empatik
Unsur yang lebih dalam dari penyelesaian yaitu ketepatan empatik. Unsur ini lebih menekankan  kepada kemampuan untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain.
d)     Pengertian  Sosial
Sebagai unsur terakhir dari kategori kesadaran sosial, kita harus memahami apa itu dunia sosial. Kita harus mempunyai pengetahuan tentang dunia sosial, bagaimana seluk-beluknya serta bagaimana dunia sosial tersebut bekerja. Dengan mengetahui hal tersebut, akan memudahkan bagi kita dalam berinteraksi dengan orang lain.
2.      Fasilitas Sosial
Fasilitas sosial merujuk kepada bagaimana seseorang berinteraksi dengan mulus dan efektif. Unsur-unsur kecerdasan sosial yang termasuk kategori ini adalah:
a)      Sinkroni
Adalah bagaimana kita bisa berinteraksi secara mulus denganmenggunakan bahasa nonverbal. Bahasa nonverbal merupakan bahasa yang tidak menggunakan kata-kata, tetapi lebihmenggunakan isyarat bahasa tubuh seperti ekspresi wajah, pndangan mata, gerak tubuh dan sebagainya. orang yang memiliki kecerdasan sosial mampu memahami bahasa tubuh dari orang yang berinteraksi dengannya. Dengan ekspresi wajah lawan bicaranya, dia bisa mengetahui apakah lawan bicaranya tersebut sedang marah, emosi, kesal atau kecewa.
b)       Presentasi-diri
Hal ini berkaitan dengan bagaimana kita menampilkan diri kita dengan efektif ketika berinteraksi dengan orang sekitar kita.
c)       Pengaruh
Orang dengan kecerdasan sosial mampu memberikan pengaruh kepada orang-orang yang berinteraksi dengannya. Dia mempunyai kemampuan untuk memengaruhi oarng lain untuk berbuat sesuatu. Hal ini tentu saja di lakukan dengan menggunakan kemampuan bicara yang hati-hati serta mampu untuk mengendalikan diri.
d)     Kepedulian
Kepedulian merupakan unsur terakhir sekaligus merupakan bentuk kecerdasan sosial yang paling tinggi. Unsur ini menekankan bagaimana kita peduli akan kebutuhan orang lain. Kepedulian ini ditunjukkan dengan melakukan tindakan yang sesuai dengan kebutuhan hal tersebut. Semakin kita bersimpati dengan seseorang dalam kesusahan dan merasa peduli, semakin besarlah dorongan kita untuk menolong orang lain.
Komponen dan Indikator Social Intelligence[4]
1.       SI (Social Intelligence) internal
a)      Keinginan untuk bersosial dari dalam diri
b)      Menjalin hubungan yang baik dengan orang lain
c)      Mengorbankan kepentingan diri demi orang lain
2.  SI (Social Intelligence) eksternal
a)      Adanya pengaruh untuk bersosialisasi
b)      Menyelesaikan permasalahan dalam berinteraksi Sosial
c)      Bersosial karena adanya faktor yang lain (supaya mendapat sanjungan dan pujian dari orang lain)
Keterampilan Dasar dalam Kecerdasan Sosial
Daniel Goleman, dalam bukunya yang berjudul Emosional Integence menyampaikan bahwa ada empat keterampilan dasar yang mesti di kembangkan dalam kecerdasan sosial. Empat keterampilan dasar itu adalah[5] :
1.      Mengorganisir Kelompok
Keterampilan esensial dari seorang pemimpin, ini menyangkut memprakarsai dan mengkoordinasi upaya menggerakkan orang. Keterampilan ini merupakan bakat yang terdapat pada sutradara atau produser sandiwara, perwira militer, dan ketua-ketua yang efektif dalam organisasi dan segala macam unit. Ditempat bermain, bakat ini dimiliki anak yang mengambil keputusan apa yang akan dimainkan oleh setiap anggota atau yang menjadi ketua regu.
2.      Merundingkan Pemecahan
Bakat seorang mediator yang mencegah konflik atau menyelesaikan konflik-konflik yang meletup. Orang yang mempunyai kemampuan ini, hebat dalam mencapai kesepakatan dalam mengatasi atau menangani perbantahan, mereka cakap dalam bidang diplomasi, arbitrasi atau hukum atau sebagai perantara atau manajer operasi. Mereka ini adalah anak-anak yang mendamainkan perbantahan di tempat bermain.
3.      Hubungan Pribadi
Empati dan bakat menjalin hubungan. Bakat ini memudahkan untuk masuk kedalam lingkup pergaulan atau untuk mengenali dan merespons dengan tepat akan perasaan dan keprihatinan orang lain, seni menjalin hubungan. Orang semacam ini merupakan pemain tim yang bagus, pasangan hidup yang diandalkan, sahabat atau rekan usaha yang setia, didunia bisnis mereka sukses sebagai tenaga penjual atau para manajer atau dapat menjadi guru yang hebat. Bakat ini pada anak-anak yang dapat bergaul praktis dengan siapa saja, mudah memasuki ruang lingkup permainan, dan senang hati melakukannya. Anak-anak ini cenderung paling pintar membaca emosi dari ungkapan wajah dan paling sukai oleh teman-teman sekelasnya.
4.      Analisi Sosial
Mampu mendeteksi dan mempunyai pemahaman tentang perasaan, motif, dan keprihatinan orang lain. Pemahaman akan bagaimana perasaan orang lain ini dapat membawa ke suatu keintiman yang menyenangkan atau perasaan kebersamaan. Dalam bentuk yang terbaik, kemampuan ini dapat membuat seseorang menjadi ahli terapi atau konselor yang kompeten atau bila digabungkan dengan bakat sastra akan menjadi dramawan atau penulis novel yang berbakat.

E.     Pengaruh Kecerdasan Sosial bagi Kesuksesan dalam Kehidupan
Kecerdasan sosial pada seseorang akan membantu mengembangkan keterampilan yang dimiliki dalam bersosialisasi. Selain dapat mengembangkan keterampilan sosialnya, seseorang melihat hubungan antar pribadi tersebut karena daya tarik yang dimiliki oleh individu lainnya dalam menciptakan interaksi sosial. Hal ini di perkuat melalui salah satu faktor yang berkaitan dengan hubungan interpersonal yaitu daya tarik. Dalam hukum daya tarik dapat di jelaskan bahwa cara pandang orang lain terhadap diri individu akan dibentuk melalui cara berpikir, bahasa dan tindakan yang khas.
Sosial IQ adalah ukuran kecerdasan sosial. IQ Sosial didasarkan pada 100 titik skala, dimana 100 adalah skor rata-rata dan 140 (di atas 140) dianggap sangat tinggi. Sosial IQ diukur dengan teknik tanya jawab. Orang dengan IQ sosial yang rendah akan dianggap anak-anak dan belum dewasa, bahkan jika orang yang berusia dewasa. Cara yang baik untuk mengukur IQ Sosial adalah dengan menggunakan sistem IQ dasar, disesuaikan dengan keterampilan sosial. Kebanyakan orang memiliki IQ sosial 85-115.
Orang dengan IQ sosial di bawah 80 mungkin memiliki gangguan spektrum autisme, seperti sindrom Asperger dan skizofrenia. Orang-orang ini mungkin mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan memerlukan pelatihan keterampilan sosial atau dukungan tambahan dari spesialis jiwa. Orang-orang ini sulit mendapatkan pekerjaan karena mereka tidak memiliki komunikasi interpersonal yang diperlukan dan keterampilan sosial untuk sukses dalam angkatan kerja. Orang-orang ini dapat bekerja dengan baik dalam pekerjaan meja kantor, pekerjaan rumah atau pekerjaan yang tidak memerlukan banyak interaksi, seperti konstruksi.
Orang dengan IQ sosial atas 120 dianggap sangat sosial terampil dan menyesuaikan diri dengan baik, dan bisa bekerja dengan baik dengan pekerjaan yang melibatkan kontak langsung dan komunikasi dengan orang-orang.
Lihat tabel berikut:
Tingkat Sosial Intelegent
Umur
120 (diatas rata-rata – sosial dewasa untuk usia)
20.4
110
18.7
100 (rata-rata)
17
90
15,3
80
13,6
70 (dibawah rata-rata)
11,9
60
10,2
50
8,5
40
6,8
30
5,1
20
3,4

Meningkatkan Kecerdasan Sosial[6]
Ada beberapa cara yang bisa dicoba untuk meningkatkan kecerdasan sosial, diantaranya:
1.      Tubuh bicara lebih banyak
2.      Tubuh dapat lebih banyak bicara dari kata-kata.
3.      Tubuh dirancang untuk berkomunikasi dengan orang lain.
4.      55% makna yang akan disampaikan dalam aktivitas tercermin pada sikap fisik.
5.      Tanpa kata-kata tubuh dapat mengkomunikasikan apakah seseorang sedang sedih, senang, marah, kecewa, bahagia, malu, takut, khawatir, gugup,antusias, percaya diri, minder, cemas dsb.
6.      Sadarilah hal tersebut
7.      Mendengarkan aktif
F.     Kunci Kecerdasan Sosial
Secara garis besar, Albrecht menyebut adanya lima elemen kunci yang bisa mengasah kecerdasan sosial kita, yang ia singkat menjadi kata SPACE, yaitu[7]:
1.      Situational awareness (kesadaran situasional)
Makna dari kesadaran ini adalah sebuah kehendak untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan serta hak orang lain. Contoh, orang yang merokok di ruang ber-AC tanpa merasa bersalah adalah orang yang tidak memiliki kesadaran situasional.
2.      Presense atau kemampuan membawa diri
Bagaimana etika penampilan, tutur kata, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan adalah sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen ini. Setiap orang pasti akan meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense yang dihadirkannya.
3.      Authenticity (autensitas)
Authenticity (autensitas) atau sinyal dari perilaku seseorang yang akan membuat orang lain menilainya sebagai orang yang layak dipercaya (trusted), jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan ketulusan. Elemen ini amat penting, sebab hanya dengan aspek inilah seseorang dapat membentangkan relasi yang mulia dan bermartabat.
4.      Clarity (kejelasan)
Aspek ini menjelaskan sejauh mana seseorang dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan idenya secara renyah dan persuasif, sehingga orang lain bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Sering seseorang memiliki gagasan yang baik, namun gagal mengkomunikasikannya secara lebih tepat, sehingga atasan atau rekan kerja tidak berhasil diyakinkan.
5.      Empathy (atau empati)
Aspek ini merujuk pada sejauh mana seseorang dapat berempati pada gagasan dan penderitaan orang lain. Sejauh mana kita memiliki keterampilan untuk bisa mendengarkan, memahami pemikiran orang lain, dan melakukan aksi nyata untuk meringankan penderitaan orang lain. Perasaan lapar dan haus dapat ditindaklanjuti dengan semangat kedermawanan melalui zakat, infak, sedekah dan ibadah sosial lainnya.

























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
1.      Kecerdasan sosial merupakan kecerdasan yang mencakup interaksi kelompok dan erat kaitannya dengan sosialisasi.
2.      Karakteristik seseorang yang memiliki kecerdasan sosial, yaitu: Mampu menghimpun banyak kawan di sekelilingnya, memiliki kemampuan untuk memanej emosinya, memberi banyak nasehat dan saran perbaikan, memiliki daya tahan terhadap kegagalan, memiliki keberanian untuk melanjutkan upaya dan usahanya setelah salah atau gagal, cepat beradaptasi, memiliki kecepatan intuisi, dapat memahami orang lain dari bahasa tubuh mereka, memiliki kemampuan berdialog secara bijak, dan menampilkan diri secara baik dan tidak palsu
3.      Empat keterampilan dasar kecerdasan social antara lain : mengorganisir kelompok, merundingkan pemecahan, hubungan pribadi dan analisis sosial.
4.      Kecerdasan sosial pada seseorang akan membantu mengembangkan keterampilan yang dimiliki dalam bersosialisasi. Selain dapat mengembangkan keterampilan sosialnya, seseorang melihat hubungan antar pribadi tersebut karena daya tarik yang dimiliki oleh individu lainnya dalam menciptakan interaksi sosial. Hal ini di perkuat melalui salah satu faktor yang berkaitan dengan hubungan interpersonal yaitu daya tarik. Dalam hukum daya tarik dapat di jelaskan bahwa cara pandang orang lain terhadap diri individu akan dibentuk melalui cara berpikir, bahasa dan tindakan yang khas.


B.     Saran
Demikianlah makalah ini dibuat, semoga ilmu yang ada dalam makalah ini menjadi berkah untuk kita semua. Dan sebagai seorang guru kita seharusnya dapat menggunakan konsep kecerdasan social ini dalam dunia pendidikan yang implikiasinya sangat berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Kemampuan berfikir dapat banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi perpengaruh sekali terhadap perkembangan sosial. Individu yang berkemampuan intelek tinggi akan berkemampuan berbahasa dengan baik. Oleh karena itu jika perkembangan ketiganya seimbang maka akan sangat menentukan keberhasilan perkembangan sosial individu tersebut.






























DAFTAR PUSTAKA

Goleman, Daniel. 2006. Social Intelligence: The New Science of Human Relationships
Hurlock, Elizabeth. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Diterjemahkan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga
Yusuf L N, Syamsu. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosda Karya
Rakmat. Jalaluddin. 1993. Psikologi Komunikasi. Bandung : RosdaKarya





[1]  Jalaludin Rakhmat. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung :Rosda Karya  (h. 129-136)              
[2] Jalaluddin Rakhmat. 1993. Psikologi Komunikasi . Bandung : Rosda Karya h. 120-128
[4] http://personalityshalha.wordpress.com/. Di akses tgl 25 april 2013
[6] http://personalityshalha.wordpress.com/. Di akses tgl 25 april2013